Rabu, 31 Mei 2017

Revisi Larangan Duduk di Bantal

Jawa Tengah adalah salah satu suku yang berada di Indonesia. Di Jawa tepatnya, tentu banyak kita mengetahui tentang suku Jawa. Begitu banyak tradisi yang kita lihat. Dari sekian tradisi yang kita ketahui tentu kita  itu adalah hal yang sering atau selalu dilakukan. Selain itu, suku Jawa juga merupakan salah satu suku yang memiliki tradisi seperti ini.

  

Pada zaman dahulu sering kita melihat dari suku Jawa ini terdapat kearifan lokal yang unik dan menarik yaitu tidak boleh duduk diatas bantal. Karena jika duduk dibantal maka pantat akan bisulan. Sebenarnya bukan bisulan tetapi karena tidak sopan. Bantal itu digunakan untuk tidur buat kepala bukan untuk pantat. Jadi, suku Jawa menyebutkan dengan kata “mbajuk”. Agar anak kecil takut dan akhirnya tidak duduk dibantal. Berbeda dengan Cina mereka menggunakan bantal sebagai alas untuk duduk. Dengan begitu di suku jawa tidak diperbolehkan karena menekankan sopan dan santun. Di jawa terkenal dengan adat sopan santunnya atau tata krama.

Sudah jelas, bahwa di suku Jawa salah satu kearifan lokal yang unik ini dari zaman dahulu hingga saat ini masih berlaku di suku Jawa. Karena banyak sekali anak yang suka duduk di atas bantal. Maka dari itu di suku Jawa muncullah pernyataan tidak boleh duduk di atas bantal. Jika duduk di atas bantal maka pantat akan bisulan. Jadi, janganlah duduk di bantal karena itu tidak sopan. Maka dari itu, bahwa bantal itu buat kita tidur menjadi alas kepala. Itu terkesan tidak sopan dan tidak enak dilihatnya. Kalau di Cina itu memang bantal khusus duduk yang digunakan, dan bantal tidur pun ada tersendiri.

Kamis, 11 Mei 2017

Revisi Guruku Pahlawanku




Guru adalah sosok pahlawan yang memberikan dan mengajarkan kita banyak hal. Menjadi seorang guru tidak mudah artinya sulit. Guru harus sabar-sabar mengajarkan kita banyak hal hingga kita mengerti. Guru bagaikan mentari yang menyinari di pagi hari. Tanpa seorang guru akan menjadi seperti apa kita ? Profesi guru ini sangatlah mulia ia mampu menghadapi banyak nya sifat-sifat dan macam-macam karakter murid dalam kelas.

Pada zaman dahulu perlakuan murid kepada guru tidak seperti zaman sekarang. zaman sekarang didikannya bisa dibilang manja. Murid baru dicubit sedikit lapor orang tua. Orang tua pun merasa tidak terima dengan perlakuan guru terhadap anaknya, akhirnya orang tua pun melaporkan kepada polisi. Terkesan seperti penganiayaan padahal guru wajar memberikan hukuman agar murid-muridnya tidak melakukan kesalahan yang sama lagi. Mereka pun seenaknya membantah guru yang jelas-jelas sudah mendidiknya. Tidak ada sopannya ini berbeda dengan zaman dulu. Contoh nya saja semua peraturan dipatuhi dan tidak berani terhadap guru sopan santun, dan ramah terhadap gurunya. Ada sebuah cerita tentang perlakuan dulu, zaman dulu kalau terkena hukum di sekolah tidak berani berbicara kepada orang tua, jika memberitahu orang tua maka hukuman kita bertambah dua kali lipat.


Sudah jelas, bahwa guru itu mempunyai tugas sangat mulia yang mengajarkan kita banyak sekali hal-hal yang kita tidak mengerti. Selalu memberikan motivasi kepada murid-muridnya agar terus semangat belajarnya. Kata-katanya lembut sekali menyentuh di hati, sampai-sampai mungkin ada saja yang tertidur di kelas karena kelembutan suara engkau wahai guru. Guru yang selalu mengulang-ulang materi yang sama karena kami yang selalu bertanya dan bertanya, mungkin sampai guru bosan. Tetapi tidak ada lelahnya engkau mengajarkan kami semua.Tetapi zaman sekarang murid semua berani kepada guru sendiri, karena semua terbalik. Faktanya guru itu perantara ilmu buat kita, jadi kita tidak boleh melawan guru apalagi sampai memenjarakan guru cuma karena hal sepele. Karena suatu saat pasti kita membutuhkan guru dan harus kita ingat guru adalah orang tua kedua kita di sekolah, jadi berbaktilah kepada guru agar mendapatkan berkat ridhonya.

Revisi Larangan Duduk di Bantal

Jawa Tengah adalah salah satu suku yang berada di Indonesia. Di Jawa tepatnya, tentu banyak kita mengetahui tentang suku Jawa. Begitu banyak...