Kamis, 20 April 2017

Larangan Duduk di Bantal



Jawa tengah adalah salah satu suku yang berada di Indonesia. Di Jawa tepatnya, tentu banyak kita mengetahui tentang suku Jawa. Begitu banyak tradisi-tradisi yang kita lihat. Tradisi yang turun-menurun dari generasi ke generasi dan dari zaman ke zaman. Dari sekian tradisi yang kita ketahui tentu kita berfikir itu adalah hal yang sering atau selalu dilakukan. Selain itu, suku Jawa juga merupakan salah satu suku yang memiliki tradisi dari berbagai hal-hal.
  
Pada zaman dahulu sering kita melihat dari suku Jawa ini terdapat kearifan lokal yang unik dan menarik yaitu tidak boleh duduk diatas bantal. Karena jika duduk dibantal maka pantat akan bisulan. Sebenarnya bukan bisulan tetapi karena tidak sopan. Bantal itu digunakan untuk tidur buat kepala bukan untuk pantat. Jadi, suku Jawa menyebutkan dengan kata “mbajuk”. Agar anak kecil takut dan akhirnya tidak duduk dibantal. Berbeda dengan Cina orang di cina menggunakan bantal sebagai alas untuk duduk. Dengan begitu disuku jawa tidak diperbolehkan karena menekankan sopan dan santun. Di jawa terkenal dengan adat sopan santunnya atau tata krama.

Sudah jelas, bahwa di suku Jawa salah satu kearifan lokal yang unik ini dari zaman dulu hingga saat ini masih berlaku disuku jawa. Karena banyak sekali anak-anak yang suka duduk dibantal. Maka dari itu disuku jawa muncullah pernyataan tidak boleh duduk dibantal. Jika duduk dibantal maka pantat akan bisulan. Jadi, janganlah duduk dibantal karena itu tidak sopan. Maka dari itu, bahwa bantal itu buat kita tidur menjadi alas kepala. Itu terkesan tidak sopan dan tidak enak dilihatnya. Kalau di Cina itu memang bantal khusus duduk yang digunakan, dan bantal tidur pun ada tersendiri.

Sabtu, 15 April 2017

Guruku pahlawanku

Guru adalah sosok pahlawan yang memberikan dan mengajarkan kepada kita banyak hal. Dari awal belum mengerti baca dan tulis, karena guru kita bisa mengetahui apa itu bacaan apa itu tulisan. Menjadi seorang guru ini tidak mudah artinya sulit. Dan guru harus sabar-sabar mengajarkan kita banyak hal hingga kita mengerti. Guru bagaikan mentari yang menyinari dipagi hari, jika tidak ada mentari maka pagi akan terasa gelap dan hampa tidak ada kehidupan. Tanpa seorang guru akan menjadi seperti apa kita ?profesi guru ini sangatlah mulia ia mampu menghadapi banyak nya sifat-sifat dan macam-macam karakter murid dalam kelas.

Pada zaman dulu perlakuan murid kepada guru tidak seperti zaman sekarang, kenapa? karena zaman sekarang didikannya bisa dibilang manja. Murid baru dicubit dikit lapor orang tua. Dan orang tua pun merasa tidak terima dengan perlakuan guru keanaknya, akhirnya orang tua pun melaporkan kepada polisi. Dan ini terkesan seperti penganiayaan padahal guru wajar memberikan hukuman agar murid-muridnya tidak melakukan kesalahan yang sama lagi.Tetapi sekarang dengan uang semua hal dapat saja terjadi murid zaman sekarang sudah keterlaluan, cuma karena orang tua mereka pejabat,polisi,tentara,anak menteri dan lain lain.Mereka pun seenaknya membantah guru yang jelas-jelas sudah mendidiknya. Tidak ada sopannya ini berbeda dengan zaman dulu, dulu murid tidak seperti sekarang. Contoh nya saja semua peraturan dipatuhi dan tidak berani terhadap guru sopan santun, dan ramah terhadap gurunya. Ada sebuah cerita tentang perlakuan dulu, zaman dulu kalau kena hukum disekolah tidak berani berbicara kepada orang tua, kenapa? karena jika memberitahu orang tua maka hukuman kita bertambah dua kali lipat. Itulah berbeda sekali dengan zaman orang tua yang mendidik anaknya dimanjain, akhirnya makin menjadi-jadi.

Sudah jelas, bahwa guru itu mempunyai tugas yang sangat mulia yang mengajarkan kita banyak sekali hal-hal yang kita tidak mengerti. Selalu memberikan motivasi kepada murid-muridnya agar terus semangat belajarnya. Kata-katanya lembut sekali menyentuh dihati, sampai-sampai mungkin ada saja yang tertidur dikelas karena kelembutan suara engkau wahai guru. Guru yang selalu mengulang-ulang materi yang sama karena kami yang selalu bertanya dan bertanya, mungkin sampai guru bosan. Tetapi tidak ada lelahnya engkau mengajarkan kami semua.Tetapi zaman sekarang murid semua berani kepada guru sendiri, karena semua terbalik. Faktanya guru itu perantara ilmu buat kita, jadi kita tidak boleh melawan guru apalagi sampai memenjarakan guru cuma karena hal sepele. Karena suatu saat pasti kita membutuhkan guru dan harus kita ingat guru adalah orang tua kedua kita disekolah, jadi berbaktilah kepada guru agar mendapatkan berkat ridhonya.

Revisi Larangan Duduk di Bantal

Jawa Tengah adalah salah satu suku yang berada di Indonesia. Di Jawa tepatnya, tentu banyak kita mengetahui tentang suku Jawa. Begitu banyak...